Soekarno
pernah berkata “Beri aku sepuluh pemuda,
maka akan aku goncangkan dunia”. Sebuah
pernyataan yang tentunya mengundang banyak perhatian, ada apakah dengan pemuda?
Menteri
Pemuda dan Olahraga pada tahun 2009 telah menetapkan bahwa usia pemuda terdapat
pada rentang 18 sampai 35 tahun. Kemudian, PBB merekomendasikan bahwa seseorang
masuk dalam kategori pemuda dalam usia 15 sampai 24 tahun. Dan mungkin banyak
lagi teori-teori dari berbagai pihak yang mengklasifikasikan atau menentukan
rentang usia sehingga seseorang dapat disebut sebagai pemuda, dan tentunya
persepsi yang timbul dari berbagai kalangan tentang pemuda akan beragam. Namun
pada intinya, kita perlu mengetahui bagaimana kepribadian atau hal-hal apa saja
yang ada dalam diri para pemuda, karena kata “pemuda” ini akan lebih mudah kita
nilai dengan melihatnya dari sisi kepribadian, bukan dari rentang usia
seseorang.
Kepribadian pemuda
Kepribadian memiliki pengertian
keseluruhan cara dimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu
lain, atau lebih sering kita deskripsikan sebagai sifat yang ditunjukan
seseorang dalam kesehariannya. Jika dikaitkan dengan pemuda, dapat kita
gambarkan beberapa ciri khas kepribadian yang ada dalam diri seorang pemuda.
Pertama, pemuda memiliki semangat yang
tinggi. Semangat untuk menuntut ilmu dan semangat untuk berprestasi, serta
semangat untuk melakukan perubahan. Dengan semangat-semangat inilah yang
membuat banyak dari kalangan pemuda dapat menghasilkan karya-karya besar dan
mencatatkan nama mereka di lembar sejarah peradaban bangsa ini. Kedua,
pemuda memiliki fisik yang kuat. Ini merupakan
hal yang membedakan pemuda dengan yang
lainnya, karena dengan fisik yang kuat seorang pemuda dapat bekerja secara
totalitas. Kondisi fisik pada usia muda telah mencapai masa puncaknya, sebelum
nantinya kembali menurun di usia tua. Untuk itu, fase inilah yang sangat
potensial untuk berkarya. Ketiga,
pemuda memiliki keikhlasan dalam beramal/bekerja.
Para pemuda banyak aktif di berbagai organisasi, baik itu di sekolah, kampus,
ataupun di lingkungan masyarakat. Namun jika kita coba perhatikan, keaktifan
mereka di berbagai organisasi tersebut tidak memberikan keuntungan secara
materi sedikitpun kepada mereka, mereka tidak mendapatkan bayaran atas apa yang
ia lakukan di organisasi yang ia ikuti. Bahkan mereka terkadang harus
mengorbankan kepentingan akademik atau keluarganya hanya untuk memberikan kebermanfaatan kepada orang
banyak.
Pemuda dalam sejarah
Para pemuda telah banyak mencatatkan
nama-namanya dalam lembaran-lembaran sejarah di negeri ini. Sebut saja
peristiwa kebangkitan nasional yang ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo,
yang merupakan wadah perjuangan para pemuda yang pertama kali berdiri di negeri
ini. Dimana ketika itu timbul semangat dari para pelajar dan mahasiswa dari
lembaga pendidikan STOVIA untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari para
penjajah. 20 tahun berselang muncul peristiwa sumpah pemuda, yang lagi-lagi aktor
utamanya adalah para pemuda. Dalam peristiwa tersebut para pemuda dari seluruh
penjuru negeri yang diwakili organisasi-organisasi kepemudaan di daerahnya
masing-masing berkumpul untuk berikrar satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Para
pemuda juga memiliki andil yang cukup besar dalam terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kalau saja ketika itu para golongan muda yang diantaranya terdapat Chaerul
Saleh, Sukarni, dan Wikana tidak berinisiatif untuk membawa Soekarno dan Hatta
ke Rengasdengklok dan mendesak mereka untuk segera melaksanakan Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia, mungkin kemerdekaan Indonesia dapat tertunda
atau bahkan tidak dapat terlaksanakan. Peristiwa bersejarah yang paling terbaru
adalah reformasi, dimana ketika itu para pemuda yang diwakili oleh mahasiswa
berhasil menurunkan rezim Soeharto yang telah berkuasa sangat lama di negeri
ini.
Bagaimana pemuda hari ini?
Sejarah
telah berbicara akan pentingnya pemuda dalam membangun bangsa, namun hari ini
apakah para pemudanya telah menjalankan fungsinya dengan baik seperti apa yang
telah dilakukan para pelaku sejarah sebelumnya? Tentu banyak dari kita hari ini
berpendapat bahwa masa muda adalah masanya untuk bersenang-senang. Pemuda hari
ini identik dengan budaya menyontek. Hal ini dapat kita lihat ketika para
pelajar kita menghadapi ujian, menyontek sudah menjadi hal yang lumrah bagi
mereka, mahasiswanya pun juga tidak jauh berbeda. Sering kita mendengar bahwa menyontek merupakan
awal dari korupsi, tentunya hal ini akan dapat berdampak buruk jika tidak
segera diperbaiki. Mungkin saja peringkat Indonesia dapat meningkat sebagai negara
terkorup di dunia. Kemudian, pemuda hari ini cukup identik pula dengan para
pelaku anarkisme. Perkelahian ataupun tawuran seakan telah menjadi kebiasaan di
kalangan para pelajar maupun mahasiswa. Para pemuda yang seharusnya dapat
memberikan karya-karya terbaiknya kepada masyarakat, hari ini justru lebih
banyak menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.
Dibalik
pandangan-pandangan negatif tersebut, kita juga tidak boleh memungkiri bahwa
masih ada pemuda yang memberikan kontribusinya untuk masyarakat.
Fungsi mahasiswa
Mahasiswa
sebagai salah satu bagian dari kalangan pemuda memiliki peran yang sangat
potensial dalam perkembangan suatu bangsa, karena mereka diberikan label
sebagai kaum intelektual. Bahkan ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa
mahasiswa merupakan salah satu dari beberapa elemen penting negara di luar
lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, serta media masa. Ada 3 fungsi yang
telah disematkan kedalam dada para mahasiswa. Pertama, mahasiswa memiliki
fungsi sebagai agent of change.
Dengan segala kompetensi yang dimilikinya, mahasiswa mengemban amanah sebagai
agen perubah dalam sebuah bangsa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa
sejarah yang telah mencatatkan nama mahasiswa sebagai pelaku utama dalam sebuah
perubahan. Kedua, fungsi mahasiswa adalah sebagai iron stock. Mahasiswa hari ini tentunya merupakan orang-orang yang
akan menggantikan pemimpin-pemimpin saat ini. Pemuda atau mahasiswa khususnya
merupakan generasi yang akan memimpin bangsa ini nantinya. Untuk itu, bagaimana
keadaan bangsa ini di masa depan dapat kita lihat dari kondisi pemudanya hari
ini. Ketiga, fungsi mahasiswa yaitu sebagai social
control. Mahasiswa dengan intelektualitas serta kekritisannya diharapkan
mampu menjadi pihak yang dapat terus mengawasi jalannya pemerintahan di sebuah
negara. Selain memberikan kritikannya, mahasiswa juga harus mampu menawarkan solusi-solusi
terbaik yang dapat berguna untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada.
Itulah pemuda… Dengan segala
keunikan yang dimilikinya, ia mampu memberikan banyak hal untuk bangsanya.
Walaupun hari ini ia lebih dikenal dengan keburukan-keburukannya, namun
kehadirannya tetap dinanti.. Dinanti untuk menggoncangkan dunia ini.
Seribu
orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” (Soekarno)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar